Monday, August 23, 2010

Pencegahan HIV/AIDS Pada Praktek Dokter Gigi

Pada postingan sebelumnya, saya telah sampaikan bagaimana perawatan gigi dan mulut bisa menyebabkan dokter gigi ataupun pasien tertular infeksi HIV. Penularan bisa lewat dua arah, dokter ke pasien, atau pasien ke dokter. Tindakan pencegahan pada dasarnya meliputi lima komponen, yaitu;

1. Penjaringan pasien,
Dalam hal ini harus disadari bahwa tidak semua pasien dengan penyakit infeksi dapat terjaring dengan rekam medik sehingga system penjaringan pasien tidak menjamin sepenuhnya pencegahan penularan penyakit. Seorang dokter gigi harus menganut konsep Universal precaution yaitu memperlakukan semua pasien seolah-olah mereka terinfeksi HIV.

2. Perlindungan diri,
Perlindungan diri meliputi cuci tangan, pemakaian sarung tangan, cadar, kaca mata, dan mantel kerja. Prosedur cuci tangan dilakukan dengan sabun antiseptik di bawah air mengalir. Persyaratan yang harus dipenuhi sarung tangan adalah tidak mengiritasi tangan, tahan bocor, dan memberikan kepekaan yang tinggi bagi pemakainya. Cadar berfungsi untuk melindungi mukosa hidung dan kontaminasi percikan saliva dan darah pada mata karena conjunctiva mata merupakan salah satu port entry sebagian besar infeksi virus.

3. Dekontaminasi peralatan,
Dekontaminasi adalah suatu istilah umum yang meliputi segala metode pembersihan, desenfeksi dan sterilisasi yang bertujuan untuk menghilangkan pencemaran mikroorganisme yang melekat pada peralatan medis sedemikian rupa sehingga tidak berbahaya.

4. Desinfeksi permukaaan lingkaran kerja,
Setiap permukaan yang dijamah oleh tangan operator harus disterilkan (misalnya instrumen) atau desinfeksi (misalnya meja kerja, kaca pengaduk, tomboltombol atau pegangan laci dan lampu). Meja kerja, tombol-tombol, selang as[pirator, tabung, botol material dan pegangan lampu unit harus diulas dengan klorheksidin 0,5% dalam alcohol atau hipoklorit 1000 bagian perjuta (bpj) dari klorida yang tersedia, dalam setiap sesi atau setiap pergantian pasien. Piston harus dicuci dan debris dari pelastik penyaring dibersihkan setiap selesai satu pasien. Selang aspirator sebaiknya memakai yang sekali pakai. Bila ada noda darah, cairan tubuh atau nanah, permukaan harus didesinfeksidengan larutan hipoklorit yang mengandung 10.000 bjp dari klorida yang tersedia dan kemudian dibersihkan dengan lap sekali pakai. Larutan harus dibiarkan pada permukaan yang akan dibersihkan minimal selama tiga menit, kemudian larutan tersebut dilap, serta permukaan permukaan tersebut dibilas dan dikeringkan.

5. Penanganan limbah kllinik,
Yang dimaksud dengan limbah klinik adalah semua bahan yang menular atau kemungkinan besar menular atau zat-zat yang berbahaya yang berasal dari lingkungan kedokteran dan kedokteran gigi. Sampah ini dikumpulkan untuk dibakar, atau ditanam untuk jenis tertentiu. Limbah klinik seperti jarum dikumpulkan di dalam wadah plastik berwarna kuninguntuk dibakar dan jenis limbah tertentu dikumpulkan untuk ditanam. Sebaiknya jarum suntik disposible setelah dipakai langsung dibuang dalam wadah tanpa memasang kembali penutup jarum, hal ini untuk menghindari tertusuknya tangan oleh jarum tersebut.

Limbah darah, adalah yang paling potensial mengandung HIV, maka bila ada limbah darah misalnya kapas dengan darah, ekstraksi jaringan atau gigi jatuh ke lantai ambillah limbah tersebut dengan mengggunakan sarung tangan, dibersihkan dengan lap atau tissue kertas kemudian lap atau tissue dan daerah tumpahan dituangkan larutan hipoklorit 10.000 bpj. Setelah 10 menit atau lebih, bilas tempat tersebut dengan lap lain, dan lap serta tissue dapat dibuang sesuai dengan tempatnya.


Gambar diambil dari sini.


Friday, August 20, 2010

Dokter Gigi dan AIDS

Dalam bidang kesehatan masyarakat, para ahli senantiasa memusatkan perhatian pada masalah-masalah kesehatan yang menyangkut orang banyak. Di masa lampau wabah penyakit dan bencana alam silih berganti mengancam kehidupan umat manusia, namun berkat kemajuan ilmu kedokteran, dewasa ini banyak diantara wabah penyakit tersebut telah dapat dikendalikan.

Pada umumnya negara maju dapat menikmati taraf kesehatan rata-rata lebih baik, akan tetapi negara yang sedang berkembang masih berjuang untuk mendapatkan pemerataan kesehatan. Dalam suasana demikian ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada satu jenis penyakit yang dapat berjangkit dengan cepat tanpa memandang bulu baik dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang, yakni penyakit AIDS.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome, diterjemahkan secara bebas sebagai sekumpulan gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan yang didapat dari faktor luar dan bukan bawaan yang sejak lahir. Jadi, sebenarnya AIDS merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi atau keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh atau kekebalan penderita.

AIDS adalah merupakan penyakit yang fatal dan menular. Jalan utama untuk transmisi HIV adalah kontak seksual (homoseksual atau heteroseksual) transmisi jarum suntik dan alat kesehatan lain, transmisi perinatal (dari ibu ke anak dalam persalinan), transmisi darah dan produk darah serta transmisi dalam pelayanan kesehatan yaitu pada pekerja rumah sakit yang berkontak dengan darah atau cairan tubuh pasien dengan infeksi HIV.

Penularan melalui saliva sampai saat ini memang diragukan karena jumlah virus dalam saliva amat kecil sehingga tidak potensial untuk penularan. Hasil beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa sebenarnya saliva dapat menghambat virus HIV agar tidak menginfeksi limfosit manusia disamping fungsi saliva sendiri sebagai pelindung karena mengandung sejumlah protein saliva. Resiko penularan dalam tindakan kedokteran diperkirakan melalui saliva yang tercampur darah karena luka yang timbul dalam perawatan.

Prosedur perawatan yang berakibat terjadinya pendarahan adalah pencabutan gigi, pembedahan, perawatan periodontal, pembersihan karang gigi dan lain-lain. Pada dasarnya, instrumen yang menembus jaringan lunak atau yang akan menyebabkan pendarahan atau kontak dengan selaput lendir yang utuh seperti jarum suntik, jarum endodontik, tang ekstaksi merupakan instrumen yang tergolong beresiko tinggi.

Penularan tidak hanya dari pasien ke dokter gigi, namun juga dapat dari dokter gigi ke pasien. Untuk itulah, seorang dokter gigi harus senantiasa waspada dan berhati-hati dalam merawat pasien, agar dokter gigi dan pasien bisa aman dari penularan. Sampai sekarang upaya pencegahan kontaminasi atau penularan infeksi HIV pada praktek dokter gigi masih dilakukan seperti upaya pencegahan infeksi silang lainnya. Pada dasarnya tindakan pencegahan harus mencakup lima komponen penting yaitu; penjaringan pasien, perlindungan diri, dekontaminasi peralatan, desinfeksi permukaaan lingkaran kerja dan penanganan limbah kllinik.

Untuk penjelasan lebih lanjut tentang kelima komponen tersebut, akan saya sampaikan pada postingan berikutnya.


Gambar diambil dari sini.



Monday, August 16, 2010

Partial Immediate Denture

Kehilangan dan kelainan posisi serta susunan pada gigi anterior terutama gigi anterior atas dapat mengganggu estetis dan penampilan wajah. Akibatnya seringkali pada kasus kehilangan gigi anterior yang disertai dengan gigi tetangga yang mengalami kelainan bentuk dibuatkan gigi tiruan sebagian konvensional yang estetisnya tidak baik karena susunan gigi yang tidak harmonis dengan gigi tetangga.

Faktor estetik merupakan faktor penting dalam pembuatan gigi tiruan karena akan mempengaruhi penampilan dan tingkat kepuasan pasien. Gigi tiruan secara estetik baik adalah gigi tiruan yang dapat meningkatkan penampilan, kecantikan, rasa percaya diri dan ciri-ciri alami pasien. Salah satu pilihan yang tepat untuk dapat perbaikan estetik dengan gigi tiruan adalah pembuatan gigi tiruan sebagian immediate karena gigi tiruan yang segera dipasangkan setelah pencabutan dan pasien tidak merasa ompong terutama pada gigi anterior karena pasien tidak mau kelihatan ompong yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada penampilan wajah.

Pemasangan gigi tiruan sebagian immediate juga dapat menghentikan perdarahan setelah pencabutan. Pemasangan gigi tiruan sebagian immediate tanpa sayap labial dapat dibantu dengan pemberian bahan haemostatic pada soket gigi, selanjutnya dilakukan relining pada gigi tiruan immediate atau daerah sekitar luka pencabutan, karena pemakaian gigi tiruan dalam selama kurang 3 bulan mengakibatkan gigi tiruan longgar.

Estetik berhubungan dengan komponen warna, bentuk, ukuran dan posisi gigi. Pemilihan elemen gigi tiruan sangat penting untuk mendapatkan estetik pada pembuatan gigi tiruan sebagian. Untuk memperoleh estetik yang optimal selama perawatan, pasien diikutsertakan dalam pemilihan macam gigi tiruan serta mencoba gigi tiruan untuk melihat keharmonisan gigi tiruan dengan bibir dan wajah.

Gambar diambil dari sini.

Note: 
  1. Gigi anterior = gigi depan
  2. Bahan haemostatic = bahan untuk menghentikan pendarahan setelah pencabutan
  3. Soket gigi = cekungan bekas pencabutan gigi
  4. Relining = pengurangan/penambahan bagian gigi tiruan agar kembali nyaman dipakai


Wednesday, August 11, 2010

Bruxism


Pernahkan kalian melihat orang tidur sambil ngunyah ludahnya sendiri? Kebiasaan ini bagi sebagian orang  (terutama pasangan suami istri) bisa sangat menggangu, karena kebiasaan ini menimbulkan bunyi gemeretak yang dapat mengganggu tidur pasangannya. Mengerat waktu tidur atau bruxism merupakan suatu kebiasaan buruk yang tidak disadari oleh si penderita. Selain berdampak pada pasangan yang terganggu tidurnya, juga bisa berdampak pada si penderita sendiri. Berikut sedikit penjelasan tentang bruxism...!!!

Pada kasus bruxism, faktor penyebabnya, yang kadang-kadang disebut juga sebagai faktor trigger adalah sangkutan oklusi atau ketidakserasian oklusi (occlusal interference / occlusal disharmony). Namun, adanya faktor penyebab ini tidak akan mengakibatkan bruxism disertai adanya stress emosi sama sekali. Dengan demikian, bruxism dapat disebut juga sebagai kasus psikosomatis.

Akibat dari bruxism antara lain:
  1. Gigi aus / memendek. Gigi yang mengalami keausan dan pemendekan, biasanya berlanjut sampai ke pulpa. Akibatnya dapat timbul pulpitis, gangraen, sampai terjadi lesi periapikal.
  2. Gigi fraktur / retak. Trauma karena bruxism dapat menyebabkan retak / patah baik pada mahkota maupun pada akar gigi.
  3. Gigi goyang. Hal ini disebabkan adanya peradangan gusi dan jaringan periodontium yang selanjutnya menimbulkan kerusakan tulang alveolar.
  4. Sakit kepala. Kemungkinan disebabkan gangguan sirkulasi pada otot-otot kepala.
  5. Sakit pada otot kunyah. Seringkali seseorang yang menderita bruxism merasa lelah dan terasa terkunci sewaktu bangun tidur di pagi hari. Diperlukan waktu tertentu untuk dapat membuka mulut dan otot-otot pengunyahan perlu dipijat-pijat terlebih dahulu.
  6. Sakit pada sendi temporomandibula. Oklusi traumatic akibat bruxism dapat menyebabkan rasa tidak enak ataupun rasa sakit pada sendi temporomandibula.

Terapi bruxism dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

A. Terapi kesalahan oklusi. Pasien dibuatkan alat yang dinamakan night guard yang dipakai pada saat tidur (malam hari). Tujuannya ialah untuk mengurangi kebiasaan bruxism dan mengurangi overloading terhadap jaringan periodontium dan menghilangkan kegoyangan gigi.

B. Terapi penunjang.
  1. Psikoterapi yang bertujuan untuk menghilangkan ketegangan emosi.
  2. Otosugesti yang berarti memberikan keyakinan pada pasien. Misalkan sebelum tidur, pasien disuruh untuk mengucapkan dan mengulang-ulang kalimat berikut. Jika saya menggerinda gigi-gigi saya, saya akan bangun.
  3. Hipnotis, yaitu pengobatan yang dimaksudkan untuk pengendalian emosi.
  4. Relaksasi otot-otot pengunyahan.
  5. Pemberian obat-obatan seperti obat penenang, analgetik, dan sebagainya yang berguna untuk menenangkan / menghilangkan rasa sakit.


Gambar diambil dari sini.