Sunday, April 18, 2010

Sikat gigi Manual dan Listrik

Sekarang ini, kita tidak hanya mengenal sikat gigi manual, tapi juga sikat gigi listrik/elektrik. Perbedaan sikat gigi manual dengan sikat gigi listrik terletak pada gerakan mekanis bulu sikat dan ukuran pegangan yang berisi motor penggerak bulu sikat.

Beberapa tahun lalu, dilakukan penelitian yang melibatkan 60 karyawan sebuah SMK di Yogyakarta, digunakan sebagai sampel. Sampel dibagi secara acak menjadi 2 kelompok sama besar. Kelompok I dikenai perlakuan menyikat gigi dengan sikat gigi manual, dan kelompok II menyikat gigi dengan sikat gigi listrik.

Kesimpulan dari penelitaan tersebut adalah, disarankan bagi mereka yang memakai sikat gigi listrik supaya menyikat gigi jangan kurang dari 1 menit, dan bagi mereka yang memakai sikat gigi manual untuk menyikat gigi jangan kurang dari 2 menit untuk pemeliharaan kesehatan mulut.

Walaupun sikat gigi listrik menunjukkan daya pembersihan plak lebih baik dari sikat gigi manual, namun sikat gigi manual masih menjadi pilihan utama di beberapa daerah di Indonesia. Untuk itu, Departemen Kesehatan RI menganjurkan agar memakai sikat gigi manual yang berbentuk lurus, pegangan sikat lurus segaris dengan kepala sikat, serta bulu-bulu sikat rata atau datar. Banyak para ahli yang menganjurkan untuk memilih sikat gigi berbentuk lurus.



Sumber; Sriyono, N. W. “Perbedaan Efektifitas Sikat Gigi Manual Dengan Sikat Gigi Listrik dan Lamanya Menyikat gigi dalam Pembersihan Plak”.

Gambar diambil dari sini.

Saturday, April 3, 2010

Vitamin C dan Rongga mulut


Kalian pernah mengalami yang namanya sariawan atau gusi berdarah? Hampir setiap orang pernah mengalami gejala tersebut. Gejala-gejala seperti sariawan dan gusi berdarah adalah gejala awal dari kekurangan vitamin C. Selain gejala diatas, kekurangan vitamin C juga dapat menyebabkan terlambatnya erupsi gigi dan gigi mudah tanggal karena lemahnya jaringan pendukung gigi.
Difiensi vitamin C menyebabkan terganggunya proses pembentukan kolagen yang dibutuhkan oleh jaringan ikat, tulang dan dentin (yang merupakan komponen utama gigi). Kekurangan kolagen dapat juga menyebabkan dinding pembuluh darah mudah pecah, dan terjadi perdarahan pada mukosa rongga mulut. Selain itu, dapat menyebabkan gigi rentan karies, mudah goyang. Kelainan pada gingival ini merupakan manifestasi klinis yang umum yang terjadi pada defisiensi vitamin C. 

Namun, pemberian vitamin C secara berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan. Pemberian vitamin C berlebihan secara oral dapat menyebabkan diare, gas dan gangguan perut. Bila diekskresikan melalui ginjal lebih dari 1 gram per hari dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal. Oleh karena itu, konsumsi vitamin C harus sesuai dengan anjuran dan kondisi tertentu seseorang. Kebutuhan harian vitamin C tergantung kepada umur, jenis kelamin dan kondisi tertentu seperti stress psikologik, perokok, fisik yang terluka, suhu yang tinggi dimana kebutuhan tubuh meningkat.

Menurut sebuah tim peneliti kesehatan pada National Institute of Health di USA telah melakukan penelitian untuk menentukan jumlah vitamin C untuk kesehatan. Para peneliti tersebut menetapkan bahwa RDA (Recommendied Daily Allowance) untuk vitamin C harus dinaikkan menjadi 200 mg perhari. Bila dikonsumsi pada dosis 500 mg, hanya diabsorbsi 70%, sisanya akan dikeluarkan melalui ginjal.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin C para ahli menyarankan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang bervariasi.



Sumber; Yendriwati. “Kebutuhan Vitamin C dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Tubuh dan Rongga Mulut”

Gambar diambil dari sini



Blog advertising